Era kehidupan digital dengan segala perkembangannya yang melaju cepat, telah membawa masyarakat ke suatu perubahan gaya hidup yang mungkin belum terbayang pada sepuluh tahun yang lalu. Digital Lifestyle, diakui telah banyak membawa percepatan sekaligus perubahan di dalam bidang komunikasi sosial masyarakat. Salah satu hasil dari digital lifestyle yang saat ini kian marak adalah digital intimacy atau keakraban/intim secara digital.Kanapa disebut digital intimacy? Karena kini keakraban antar individu bisa terjalin melalui teknologi digital yang ada. Internet sebagai tulang punggung komunikasi informasi kini telah banyak memberi kemudahan kita untuk berkomunikasi secara realtime dengan siapapun. Perkembangan social networking pun turut mendorong perkembangan digital intimacy ini.
Kini untuk berkomunikasi dengan teman yang ada di luar kota ataupun benua lain kita bisa melakukannya dengan mudah melalui YM (Yahoo Messenger) atau Google Talk. Belum lagi social networking yang berkembang sekarang seperti Facebook, Friendster, Twitter, dan sejenisnya juga menstimulus perkembangan digital intimacy. Mengetahui kabar terakhir atau keberadaan teman-teman pun bisa kita lakukan dengan mudah melalui social networking yang kini berkembang.
Namun seperti halnya perkembangan teknologi pada umumnya, selalu saja ada sisi positif dan negatif dari penerapannya. Termasuk untuk digital intimacy ini, walaupun mengakrabkan kita secara digital dengan teman, saudara maupun relasi secara mudah, namun tetap saja jika kita tidak hati-hati, ada sisi negatif yang ditimbulkannya.
Pernahkah terbayang jika ada orang yang meminta laporan anak buahnya melalui YM, padahal mereka ada di ruangan yang sama, yang mungkin hanya tersekat oleh dinding kaca, dan minta langsung dikirimkan lewat email. Dampak terbesar dari perkembangan digital intimacy adalah hilangnya ’personal touch’ atau komunikasi verbal dari kedua individu. Jika kedua individu tersebut ada di tempat yang terpisah, mungkin digital intimacy merupakan ’malaikat penyelamat’ yang tepat. Namun jika orang yang kita ajak berkomunikasi tersebut sebenarnya masih bisa kita jangkau secara verbal, maka kebiasaan digital ini hanya akan menjadi penyekat komunikasi emosi personal.
Bertemu secara langsung dan membuat suatu komunikasi yang personal dan intensif pastinya akan lebih mengesankan dan dihargai jika dibandingkan kita hanya berkomunikasi secara digital melalui Messenger saja, tanpa mengetahui bagaimana sifat dan personal orang tersebut. Seorang atasan yang meminta anak buah yang berada hanya di ruang sebelahnya mengerjakan sesuatu, jika diutarakan secara verbal langsung pastinya akan membuat si anak buah merasa lebih dihargai disamping juga terjalin komunikasi personal yang baik. Begitu juga dengan orang pacaran, janjian atau sekedar mengetahui cerita hari ini melalui Messenger memang mengasyikkan, tapi tidak akan bisa menggantikan keromantisan candle light dinner tentunya.
Pada prinsipnya, digital intimacy merupakan hal yang baik untuk diterapkan, sebatas kita selalu tahu batas penggunaan yang tepat. Digital intimacy sendiri bukanlah sebuah pengganti komunikasi verbal, namun hanya sebagai sarana alternatif berlangsungnya komunikasi jika komunikasi verbal tidak mungkin dilakukan. Faktor emosi dan personal gesture pada saat berkomunikasi dengan orang lain, nyatanya tidak bisa begitu saja tergantikan dalam digital intimacy ini. Walaupun Yahoo telah berusaha membantu dengan Emoticon-nya, namun nyatanya icon emosi ciptaan Yahoo ini tidak bisa begitu saja menggantikan keberadaan seorang personal secara pribadi
Related posts:



Leave Your Comments Below