VIRTUAL STORAGE
Setiap perusahaan pasti mengetahui, bahwa dengan infrastruktur teknologi informasi (TI) yang ramping, pengelolaan storage- nya lebih sederhana dan murah. Tetapi, bagi sebagian besar perusahaan, perkara storage ini bukanlah sesuatu yang sederhana.
Meningkatnya jumlah data membutuhkan kapasitas storage yang semakin besar. Akibatnya, biaya pengelolaannya pun melonjak, utamanya karena keterbatasan teknologi storage-management . Sudah menjadi fakta sehari-hari bagi sebagian besar perusahaan bahwa ketika menambah storage , mereka perlu merekrut lebih banyak orang untuk mengelolanya. Tak heran, masalah SDM ini merupakan penyumbang terbesar melonjaknya total cost of ownership (TCO) storage .
Untuk mengatasi masalah itu, perusahaan bisa mulai menggabungkan berbagai bagian storage yang dimilikinya – mulai dari disk drive sampai array partition , yang masing-masing dikenali dengan logical unit numbers (LUN)-nya – ke dalam satu LUN virtual. Hasilnya? Rasa jengkel Anda berkurang, tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit, dan tentunya lebih hemat biaya.
Tak pelak, “satu LUN” ini menjadi kalimat paten bagi para pemain industri storage , dan teknologi untuk mewujudkannya, storage virtualization pun semakin banyak diperbincangkan.
Teknologi storage virtualization ini telah dimanfaatkan dengan berbagai cara, namun secara umum tujuannya untuk menyederhanakan cara bagaimana storage itu dikelola, khususnya dalam lingkungan multivendor. Teknologi ini menjanjikan kemudahan pengelolaan storage dengan memvirtualkan atau mengelola storage fisik secara logika di tingkat file , jaringan, volume dan storage block . Yang menjadi pertanyaan, bisakah teknologi tampil sendirian mengatasi masalah storage management ?
Berbagai pendekatan
Jika kita sejenak menoleh ke belakang, storage virtualization bukanlah hal baru. Konsep yang intinya menyatukan berbagai disk drive secara fisik dan menampilkan dengan satu nama volume atau drive letter ini sudah dikenal sejak diperkenalkannya RAID array akhir 70-an. Perbincangan mengenai virtualisasi storage ini muncul sejalan dengan perkembangan arsitektur untuk networked storage, misalnya SAN ( storage-area network ).
Dalam kasus storage virtualization , suatu volume virtual memiliki kemampuan untuk mewakili dalam jumlah besar disk drive fisik atau konstruksi storage berbasis disk, seperti misalnya array partition (dimana partisi itu sendiri merupakan volume virtual yang dibuat dari sesusunan disk). Dalam suatu storage network , hampir segala sesuatu yang direpresentasikan dengan sebuah LUN dapat dikumpulkan menjadi satu volume virtual.
Para vendor menempatkan virtualisasi ini dalam beberapa lingkungan yang berbeda, tergantung pada layanan yang ingin mereka berikan. Lokasinya bisa di server host, array, maupun di perangkat dan switch jaringan. Pada pendekatan server host, piranti lunak virtualisasi berperan mengatur bagaimana aplikasi terkait dengan infrastruktur storage nya. Aplikasi tidak melihat perangkat storage, tapi hanya melihat volume yang dibuat virtualization engine .
Pendekatan semacam ini cenderung mahal dan rumit. Pasalnya, piranti lunak harus ditempatkan di masing-masing server dan rentan terhadap berbagai kesalahan dan kegagalan. Selain itu, piranti lunak berbasis-host ini menguras sumberdaya sistem operasi server, dengan memakan tenaga server yang sebenarnya lebih tepat dihabiskan untuk pemrosesan aplikasi.
Proses virtualisasi pun bisa dilakukan di array, apakah itu disk-array atau tape-array. Pendekatan yang juga dikenal dengan istilah storage subsystem virtualization ini memvirtualkan single array atau multiple networked array yang dibuat oleh produsen yang sama. Biasanya, piranti lunak virtualisasinya menempati array controller. Data yang masuk ke array berhadapan dulu dengan sebuah virtualization layer, yang kemudian mengarahkan data tersebut ke disk atau kombinasi disk yang ditampilkan controller sebagai satu LUN.
Sayangnya, pendekatan semacam ini hanya cocok digunakan pada satu jenis atau merk array yang sama, sekalipun munculnya standar storage belakangan ini kemungkinan bisa mengatasi kelemahan tersebut.
Pendekatan virtualisasi storage lain yang cukup populer adalah network based virtualization, yang menggunakan perangkat network atau switch. Network based virtualization ini memiliki dua jenis pendekatan arsitektur dalam implementasinya.
Pendekatan pertama adalah symmetric atau in-band (in-the-data-path) virtualization, yang memanfaatkan sebuah perangkat pemvirtualisasi atau server, yang ditempatkan di tengah-tengah alur data ( data path ) antara aplikasi dan switch SAN. Perangkat ini memvirtualkan storage yang terhubung ke back-end -nya (komponen-komponen storage yang terhubung ke switch SAN) dan merepresentasikan volume virtual bagi server aplikasi yang terhubung ke front-end- nya. Strategi semacam ini memindahkan fungsi virtualisasi keluar dari application host dan membentuk “server tier” lain yang mengerjakan fungsi seperti halnya array controller .
Pendekatan ini memiliki kelemahan, karena server virtualisasi yang ditempatkan di tengah data path berpotensi menjadi bottleneck , khususnya ketika infrastruktur storage tumbuh dan volume data yang berlalu-lalang melalui server virtualisasi meningkat.
Sementara pendekatan asymmetric atau out-of-band virtualization merupakan alternatif pendekatan di atas. Pendekatan ini menggunakan kombinasi dari sebuah network appliance dan beberapa piranti agent , untuk membuat dan mengelola volume virtual sambil memungkinkan transfer data langsung antara server dan storage subsistem.
Dalam pendekatan ini, penanganan metadata dikerjakan terpisah dari dari alur data. Suatu network appliance bertindak sebagai metadata center, yang melihat storage secara fisik dan mengalokasikan volume virtual. Konfigurasi volume dari appliance tersebut dibaca oleh agent dan ditampilkan ke sistem operasi server seolah-olah sebagai disk drive. Ketika sistem operasi mengirim I/O ke volume virtual, agent akan mencegat sinyal tersebut dan menerjemahkan logical address volume ke physical address, dan mengirim sinyal I/O itu ke perangkat storage .
Arsitektur semacam ini mempertahankan fleksibilitas yang dimiliki virtualisasi simetrik tanpa menimbulkan degradasi kinerja atau membutuhkan perangkat keras yang mahal. Appliance -nya sendiri bisa berupa unit kecil dan murah, karena perangkatnya tidak perlu menangani transfer data secara aktual.
Bukan produk tunggal
Virtualisasi memang akan menyederhanakan jalinan storage fisik (terdiri dari disk, array, tape, controller, switch dan host ) yang rumit dan membuatnya menjadi beberapa perangkat storage yang mudah dikelola. Namun, bukan berarti virtualisasi bisa langsung mengatasi permasalahan storage perusahaan dalam sekejap, seperti banyak yang diharapkan orang. Mungkin lebih tepat jika memandang storage virtualization ini sebagai suatu underlying technology untuk berbagai fungsi bermanfaat lainnya, seperti storage resource management (SRM), automatic provisioning , dan volume management services .
Jon William Toigo, CEO suatu perusahaan konsultan storage , Toigo Partners International, mengatakan bahwa virtualisasi lebih merupakan sebuah enabling layer dari software . “Dibutuhkan layer lainnya di atas teknologi virtualisasi itu untuk mengelola infrastruktur enterprise,” ujarnya. Bahkan lebih jauh ia mengatakan virtualisasi itu sendiri tidak memiliki business value , kecuali jika ia dipadukan dengan piranti lunak lainnya.
Yang jelas, ke depan storage virtualization akan semakin mapan, dan akan terus berperan sebagai enabling technology yang vital bagi manajemen dan otomasi storage . Hadirnya standarisasi storage , seperti Storage Management Initiative Specification (SMI-S), yang didukung kurang lebih 100 vendor storage setidaknya membantu standarisasi perangkat keras, yang pada akhirnya akan membuat virtualisasi semakin mudah dan memiliki cakupan yang luas.
Produk-produk virtualisasi yang ada pun sebenarnya sudah bisa menyederhanakan manajemen storage . Ketika standarisasi storage di atas semakin mapan, para vendor tentuk akan lebih banyak mengeluarkan produk-produk otomatisasi yang berjalan di atas basis teknologi virtualisasi.
Gartner, sebuah perusahaan riset pasar TI dalam salah satu laporannya menyatakan bahwa 20 persen dari biaya storage diperlukan untuk pembelian perangkat keras. Pengelolaannya menghabiskan porsi 15 persen, backup dan restore menghabiskan 30 persen, sementara downtime – termasuk planned downtime untuk menambah storage – menghabiskan 20 persen dari total pengeluaran untuk storage .
irtualisasi setidaknya bisa menghemat biaya manajemen dan provisioning yang cukup besar bagi perusahaan, sehingga sayang bilamana teknologi ini Anda lewatkan begitu saja. Tinggal bagaimana Anda memilih paduan teknologi ini dengan manajemen dan otomatisasi storage yang tepat, sesuai dengan kebutuhan infrastruktur storage perusahaan Anda
No related posts.



Leave Your Comments Below