Nada dering (ringtones) mungkin salah satu fitur ponsel yang paling diminati para pengguna ponsel di
seluruh dunia, baik muda maupun tua. Tak jarang dalam memilih ponsel, sebelum membeli, pertimbangan menarik tidaknya fitur nada dering ini menjadi penentu, selain model dan tentu saja fitur-fitur lainnya yang sangat bervariasi.
Nada dering sendiri, yang mulai diperkenalkan sejak tiga tahun lalu, juga mengalami perkembangan dari yang Monophonic, kini ponsel-ponsel baru lebih memfasilitasi yang polyphonic. Monophonic merupakan serangkaian nada yang digabung membentuk satu melodi tertentu. Ukuran nadanya, biasanya, tidak terlalu besar yaitu sekitar 256 bytes. Hal itu pula yang memungkinkan nada monophonic dapat dikirim ke ponsel melalui SMS. Nada dering monophonic terasa kurang dinamis dibandingkan polyphonic, dan untuk memperolehnya bisa melalui download dan bisa juga dengan menciptakan sendiri melalui pengetikan komposisi tertentu.
Sedang nada dering polyphonic pembentukan melodinya berasal dari beberapa nada yang berbeda atau sering juga di sebut synthesized audio. Umumnya, tipe nada tersebut berupa file MIDI dengan ukuran mulai dari 8 kilobyte hingga 15 kilobyte. Nada dering polyphonic bisa dikirimkan melalui pesan multimedia (MMS) atau dari situs WAP.
Ke depan, selain polyphonic, kini juga muncul format baru nada dering, yang berasal dari para produsen musik besar dunia, yang dikenal dengan music tones. Klip musik berdurasi sekitar 20 detik ini merupakan rekaman asli dan kini telah memiliki sekitar seperempat dari seluruh penjualan nada dering.
Semakin Marak
Minat yang besar dari para pengguna ponsel terhadap nada dering semakin mendorong munculnya bisnis nada dering yang semakin marak. Nilainya cukup besar. Tahun 2003 lalu, pasar nada dering dunia mencapai 3,5 miliar dolar AS (dengan kurs Rp. 9,500 berarti senilai Rp. 33,25 triliun), atau meningkat 40% dibandingkan tahun 2002. Nilai itu memang masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan penghasilan yang diperoleh dari SMS, yang nilainya mencapai 40 miliar dolar AS.
Menurut perkiraan ARC Group, nilai yang dicapai nada dering itu setara dengan 10 persen dari total pasar musik dunia yang mencapai 32,2 miliar dolar AS dan sepuluh kali lebih besar dari penjualan CD musik. Sebagian besar itu terjadi di Eropa dan Asia, dan tentu di Amerika Serikat, dimana pasar ponselnya telah cukup matang. Tahun 2008 mendatang diprediksi nilai pasarnya akan mencapai 10 miliar dolar AS.
Pasar itu terdistribusi di beberapa kawasan yang sangat potensial dan menunjukkan tingkat peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2004 ke 2008. Yakni, di Amerika Serikat dari 1 miliar dolar AS (2004) menjadi 1,3 miliar dolar AS (2008), di Eropa dari 1 miliar dolar AS menjadi 3 miliar dolar AS, di Jepang/Korea dari 1 miliar dolar AS menjadi 2 miliar dolar AS, di China/India/Asia Tenggara dari 500 juta dolar AS menjadi 2 miliar dolar AS, di Amerika Latin dari dari 40 juta dolar AS menjadi 550 juta dolar AS, dan Negara-negara lainnya dari 150 juta dolar AS meningkat menjadi 1,5 miliar dolar AS.
Maraknya minat para pengguna ponsel terhadap nada dering ini lebih dipicu karena nada dering memberikan identitas, kebebasan atau fleksibilitas yang menyangkut dirinya, sehingga untuk pilihan nada deringnya ia tak keberatan membayar lebih mahal. Bandingkan, kalau musik MP3 yang dijual situs-situs seperti iTunes, RealNetworks hanya senilai 99 sen untuk satu lagu utuh dengan kualitas yang cukup baik, namun untuk satu nada dering polyphonic yang hanya sepotong lagu berdurasi 20 sampai 40 detik, pengguna ponsel rela membayar 2 sampai 5 dolar AS (Rp. 19.000 sampai Rp. 45.000).
“Tak masuk akal kalau para pengguna ponsel rela membayar, bahkan cukup besar juga, untuk sebuah nada dering,” ungkap Adam Zawel, seorang analis perusahaan riset teknologi, Yankee Group. “Pastilah, kalau semakin banyak orang yang berminat dan mendownload nada dering, peningkatan harganya pun bisa terus meningkat.” Ke depan, tampaknya jumlah peminat nada dering ini memang akan terus meningkat. Menurut perkiraan ARC Group tahun 2006 mendatang pengguna nada dering akan mencapai 551 juta orang di seluruh dunia.
Siapa diuntungkan?
Penjualan nada dering memang bisa terdukung oleh model bisnis yang berbeda-beda, begitu juga harganya. Ada yang bisa diperoleh melalui SMS, dan ada juga yang didownload dari satu situs web. Biasa model bisnis semacam ini, yang banyak berlaku di negara-negara maju yang aturan property rights-nya cukup tinggi, pembagian penghasilannya juga lebih merata, baik kepada artis, perusahaan rekaman, wireless provider dan pembuat nada dering. Namun, di Negara-negara Asia, misalnya Indonesia, masalahnya bisa jadi berbeda.
Selain tukar menukar nada dering di antara para pengguna ponsel, penjualan nada dering juga dilakukan langdung melalui PC di lokasi-lokasi penjualan ponsel, misalnya di mal-mal. Para penjual cukup mendownload ribuan nada dering, baik membeli maupun gratis, dan kemudian di masukkan ke komputer dan langsung dijual secara on the spot. Hasil penjualannya tak berbagai ke siapapun, kecuali ke si penjual itu sendiri.
Di tingkat dunia, para operator nirkabellah yang banyak memperoleh hasil dari bisnis nada dering ini. Sebut saja Verizon Wireless, Cingular, Sprint PCS, Nextel dan T-Mobile. Michael King, seorang analis Gartner, memperkirakan perkembangan bisnis nada dering ini masih akan bertahan dan nilai penjualannya bahkan akan terus meningkat. Hal itu terlebih karena terdukung oleh munculnya berbagai ponsel dengan teknologi yang memungkinkan menyimpan nada dering lebih banyak dan dengan kualitas yang lebih baik. Misalnya saja Samsung, yang telah meluncurkan ponsel yang dilengkapi hard drive berkapasitas 1,5 GB.
Sedang, harga jualnya pun bervariasi di beberapa kawasan. Di situs-situs asing bisa bernilai antara 2 hingga 5 dolar AS, misalnya situs web Sony Music menjual satu nada dering seharga 2 dolar AS. Sedang di Korea Selatan, SK Telecom Co, rata-rata menjual satu nada dering seharga 20 sen dolar, dan Vodafone di Inggris menjualnya 2,75 dolar AS. Di Eropa, rata-rata antara 2 hingga 6,5 Euro, terutama untuk nada dering lagu-lagu top. Di Indonesia, harganya pun bervariasi, namun rata-rata dijual seharga Rp. 3000 sampai Rp. 10.000.
Di tingkat dunia, T-Mobile dan Vodafone merupakan dua di antara penyedia nada dering terbesar. Sedang Bravo.de dan Jamba.de merupakan situs web yang berhasil menjadi yang terbesar. “Tahun lalu, kami menjual sekitar 10 juta nada dering,” ujar jurubicara Jamba, Tilo Bonow. “Itu merupakan kenaikan hamper 300 persen dibandingkan tahun sebelumnya.” Sedang Universal Mobile, yang 100 persen sahamnya dimiliki Universal Music International, mengaku bekerja sama dengan 35 operator di seluruh dunia dan memiliki tak kurang dari 350 juta pelanggan. Universal Mobile menyediakan sekitar 13.000 nada dering, baik monophonic maupun polyphonic dan Master Tones.
Tantangan
Ibarat gula, yang karena rasa manisnya mendorong semut untuk berkumpul, begitu juga bisnis nada dering ini. Nilainya yang semakin membengkak, tak urung mendorong mereka-mereka yang memiliki “power” untuk juga merebut bisnis yang cukup besar dan cepet pertumbuhannya ini. Hal itu pula yang mendorong munculnya beberapa tantangan yang harus disikapi dengan cerdik bagi siapa saja yang terlibat dalam bisnis tersebut.
Tarik-tarikan terjadi dari berbagai pihak, yang masing-masing membawa kekuatannya sendiri. Selama ini operator nirkabel menikmati keuntungan yang lebih besar, yakni mencapai 45 persen, terutama dibandingkan perusahaan rekaman yang hanya 40 persen.Menyadari potensi yang besar, perusahaan rekamanpun mulai melakukan kerjasama dengan sejumlah operator nirkabel. Misalnya saja, divisi T-Mobile, perusahaan telekomunikasi Jerman menandatangani kontrak dengan Universal Mobile, satu divisi Universal Music International, untuk membuat nada dering dari lagu-lagu Black Eyed Peas, Shaggy, dan U2. Melalui T-Mobile ini, Universal berharap dapat memasarkan nada dering berkualitas lebih baik, yang disebut music tones atau realtones yang merupakan lagu-lagu asli, sebagaimana yang Anda dengar melalui CD. Karena persiangan ke depan lebih pada nada-nada dering yang bermutu tinggi.
Nitesh Patel, seorang analis senior mengungkapkan bahwa, “Dalam lima tahun ke depan, peningkatan kebutuhan nada dering dari yang monophonic, polyphonic, hingga music tones atau realtones berbasis copyright dari rekaman master-nya, maka pasar nada dering harus melakukan konsolidasi. Karena para produsen rekaman akan semakin mendorongkan “kekuasaannya”, baik dalam posisi tawar-menawarnya maupun membeli perusahaan-perusahaan pembuat nada dering atau membuat divisi produksinya sendiri, serta kemungkinan membangun kanal distribusi sendiri. Meski pada saat yang sama, mereka juga tetap memberi lisensi ke pihak lainnya.
Namun, pembuatan nada dering realtones oleh misalnya BMG, Sony Music, EMI, Warner Chappell dan Universal, tampaknya akan semakin intensif, namun para analis strategis memperkirakan para operator yang akan memenangkan persaingan, karena mereka sendiri pun terus meningkatkan layanan datanya. Meski, perusahaan rekaman pun akan meraih hasil yang juga besar.
Dari sisi pemasaran dan distribusi, Apple dan Motorola misalnya, telah mengumumkan akan menjual nada dering melalui toko musik online iTunes untuk beberapa ponsel Motorola mulai tahun depan. Nokia juga segera mengikuti langkah itu melalui kerja sama dengan Loudeye untuk membuat suatu music platform yang memungkinkan para operator, pelanggan terbesar Nokia, dapat mengembangkan layanan musiknya di ponsel Nokia. EMI, Sony, dan Universal kini memiliki divisi yang khusus menangani pembuatan nada dering.
Namun, banyak yang setuju bahwa untuk mengembangkan bisnis ini diperlukan suatu model bisnis yang ramah konsumen. Bayangkan saja, saat iTune dan RealNetworks menjual lagu-lagu utuh berformat MP3 seharga 99 sen dolar, Verizon dan Sprint PCS dapat menjual sepotong lagu yang disebut nada dering itu seharga 2 sampai 5 dolar AS. Para operator dan pembuat nada dering mengungkapkan bahwa kebutuhannya jelas berbeda. “Ibarat baju seragam, nada dering itu logonya. Logo itu yang mengekspresikan diri si pemakai baju. Begitu juga dengan nada dering, yang memberikan ekspresi identitas,” ujar Lewis Ward, seorang analis IDC.
Xingtone
Namun, tantangan yang tak boleh dianggap enteng datangnya dari perusahaan bernama Xingtone. Perusahaan ini telah berhasil mengembangkan aplikasi yang memungkinkan konsumen membuat sendiri nada deringnya. Hal ini jelas akan menarik banyak peminat, karena dapat lebih bebas membuat sendiri nada dering yang diinginkannya.
Piranti lunak Xingtone, selain mudah digunakan, juga memungkinkan pembuatan nada dering dari file-file musik di komputer Anda, seperti klip musik (MP3/WAP/CD), efek suara, suara teriakan, tangi bayi dan sebagainya. Dengan membeli Xingtone seharga 14,95 dolar AS Anda segera dapat membuat nada dering dalam jumlah tak terbatas. Bayangkan, hanya dengan harga yang tak sampai harga 10 nada dering, kini Anda dapat membuat nada dering sebanyak yang Anda inginkan!
Kalau Anda tinggak di Amerika, Xingtone mungkin saja jadi pilihan pertama Anda, karena hukum di Amerika memungkinkan membuat copy untuk pribadi. Namun, hal yang sama tak dapat Anda lakukan bila di Inggris. Lain halnya di Indonesia, semuanya hampir serba bisa, jadi nggak begitu masalah. •INSA
Related posts:



Leave Your Comments Below